Wednesday, January 02, 2008

Orgasma Penulis

Saya tertarik ketika membaca entri di blog Aldric Tinker. Rakan sekuliah saya ini telah memetik tulisan Robert Bly yang berbunyi:

“… the first prerequisite… to consider in your writing career is: … Do you want to spend your time writing? Or are you, as May Sharton suspects, more enamored with the thought of being a published author than with the act of writing itself? To be happy and successful as a writer, the latter should be much more important to you than the former.”

Betapa saya agak tersentap ketika membaca kata-kata tersebut.

Tidak dinafikan, sememangnya saat terindah buat seseorang penulis itu adalah ketika melihat karya yang ditulisnya sendiri dengan begitu berpenat lelah memerah otak (dan keringat barangkali – tapi itu pun kalau kamarnya panaslah! – kalau kamarnya dingin, manakan ada keringatnya, kan) disiarkan di mana-mana media. Tetapi keinginan melihat karya itu disiarkan tidak harus melebihi kerinduan untuk menulis itu sendiri. Tulisan Robert Bly itu mengingatkan saya, betapa kadang-kadang saya sudah terlalu jauh terpesong dari keinginan sebenar menulis – apabila keinginan untuk melihat karya terbit terlalu mendominasi lantas saya menulis dalam keadaan tekanan, dan bukan lagi sebagai sesuatu yang menyeronokkan.

Dan, menurut Orhan Pamuk pula, di dalam pidatonya ketika menerima hadiah nobel kesusasteraan, untuk menjadi penulis seseorang itu tidak boleh hanya berbekalkan kerja keras dan kesabaran semata-mata. Sebaliknya, katanya:

“To become a writer, patience and toil are not enough: We must first feel compelled to escape crowds, company, the stuff of ordinary, everyday life, and shut ourselves up in a room… the desire to shut oneself up in a room is what pushes us into action”

Kata Orhan Pamuk lagi:

“When I speak of writing, what comes first to my mind is not a novel, a poem, or literary tradition, it is a person who shuts himself up in a room, sits down at a table, and alone, turns inward; amid the shadows, he builds a new world with words.” (Aduh, indahnya ayat Orhan Pamuk yang ini!)

Dan kata-kata Orhan Pamuk itu mengingatkan pula saya kepada apa yang pernah saya baca beberapa ketika yang lalu dari biografi bertajuk J.K Rowling: The Wizard Behind Harry Potter. Ketika penulis bilioanair ini bekerja di sebuah pejabat di Manchester, dia selalu berharap agar tidak ada sesiapa rakan sekerjanya yang membuat apa-apa majlis keramaian yang memerlukan kehadirannya – kerana ini akan mengambil masanya untuk menulis! Betapa dia lebih rela menyendiri di kamar yang sepi untuk mengembara dalam alam fantasinya, dari menghadiri majlis-majlis sosial. (pun, ketika menulis Harry Potter, dia lebih selesa menulis di Kafe kegemarannya)

3 comments:

Soffian Ali said...

Noq..thanks lah..i tak sangka you tengok my all punye blog!!!

Aldric said...

Compared to you, I still have a long journey ahead of me. Thanks for reading me blog. :-)

Aidil Khalid said...

Aldric,

Yup, but I can see that we are in different directions. I am into literary writing, while you are into commercial writing.

  © Blogger template 'Morning Drink' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP