Friday, August 07, 2009

W.S Rendra

Baru sahaja beberapa hari yang lalu saya memetik sajak Sebatang Lisong ketika menulis di ruang komentar blog Azriq mengenai tanggung jawab seniman serta konsep keseniannya. Hari ini kita mendapat berita akan pemergian pengarang sajak tersebut lewat malam tadi – seorang penyair besar, seorang seniman rakyat, dan seorang budayawan teguh, W.S Rendra. Saya memetik bahagian sajaknya yang begini:



Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.



Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

W.S Rendra, 19 Ogos 1977
ITB Bandung

(klik sini untuk teks penuh sajak Sebatang Lisong)

Seorang demi seorang seniman mapan pergi, dan apa yang ditinggalkan oleh mereka untuk kita adalah karya-karya besar yang mereka karang. Tetapi pemergian mereka tetap akan menjadi suatu kelompongan, dan kelompongan ini harus diisi. Oleh siapa lagi kalau bukan seniman-seniman muda dan karyawan-karyawan generasi baharu. Sudah bersediakah kita atau masih lagi terlalu lalut mabuk dengan kesenian anggur dan rembulan?

*Foto dicuplik dari entertainment.kompas.com.

No comments:

  © Blogger template 'Morning Drink' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP